Ujicoba Instrumen Penilaian Agama Islam di MI/SD (Tes Tertulis)

 

🌸Ujicoba Instrumen Penilaian Agama Islam di MI/SD (Tes Tertulis)🌸

Pada  dasarnya  untuk  melakukan  sebuah  penilaian dapat  digunakan dua bentuk instrumen, yaitu tes dan non tes. Instrumen tes meliputi tes tertulis bentuk  pilihan dan uraian, sedangkan  non tes terdiri dari portofolio, kinerja, proyek,  penilaian diri,  penilaian  jurnal  dan  tes  lisan(Kusaeri,  2014).

Hal yang sangat mempengaruhi kualitas penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar adalah instrumen yang akan digunakan. Instrumen merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kegiatan evaluasi pembelajaran. Salah satunya adalah tes. Tes yang digunakan di sekolah biasanya untuk mengukur tingkat kemapuan atau prestasi siswa dalam bidang kognitif, seperti pengetahuan, pemahaman, analisis, sintesis, dan evaluasi

Data mengenai proses pengembangan instrumen hasil belajar didapatkan dari tahap perancangan. Tahapan ini terdiri dari Sembilan langkah yaitu: Menyusun spesifikasi tes, Menulis soal tes, Menelaah soal tes, Melakukan uji coba tes, Menganalisis butir-butir soal tes, Memperbaiki tes, Merakit tes, Melaksanakan tes, Menafsirkan hasil tes.

Kisi-kisi yang disusun berdasarkan materi pada tema 7 perkembangan teknologi, Subtema 3 perkembangan teknologi komunikasi yang terdiri dari tiga mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan SBdP. Kisi-kisi tes disajikan dalam bentuk matriks yang berisi beberapa komponen yaitu kompetensi dasar, indikator, teknik penilaian dan bentuk instrumen. Setelah menyusun semua komponen selanjutnya memilih bentuk tes yang sesuai.

Pertama, menyusun spesifikasi tes adalah menentukan tujuan tes, menyusun kisi-kisi, memilih bentuk tes, dan tes sumatif. Hal ini dilakukan agar mempermudah dalam menulis soal dan siapa saja yang menulis soal akan menghasilkan tingkat kesulitan yang relatif sama.

Kedua, Menulis soal tes merupakan penjabaran dari indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan perincian pada kisi-kisi yang telah dibuat.

Ketiga, Menelaah soal tes merupakan hal yang dilakukan untuk meminimalisir kesalahan atau kekurangan. Salah satu tahapan untuk menghasilkan tes yang baik adalah dengan melakukan penelaahan tes dengan melibatkan pakar pendidikan yaitu Dr. Muhammad Japar, M.Si. Penelaahan butir tes didahului dengan penetapan level tes berdasarkan perjenjangan Taksonomi Bloom edisi revisi dan kesesuaian antara instrumen tes tertulis bentuk pilihan ganda dan uraian dengan materi pembelajaran. Selain itu pakar memberikan masukan lain seperti kesesuaian konten, konstruks, dan bahasa dengan konsep Taksonomi Bloom

Keempat, Uji coba tes dilakukan sebagai sarana memperoleh data empiris tentang tingkat kebaikan soal yang telah disusun.

Kelima, Dengan adanya analisis butir-butir soal tes dapat dikatahui tingkat kesulitan butir soal, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh.

Keenam, memperbaiki tes adalah Langkah yang biasanya dilakukan tes butir soal, yaitu memperbaiki masing-masing butir soal yang ternyata masih belum baik. Setelah proses penelaahan oleh pakar pendidikan, maka selanjutnya instrumen direvisi berdasarkan saran yang telah diberikan. Hasil revisi tersebut diuraikan berdasarkan penjabaran indikator menghasilkan 10 butir soal pilihan ganda dan 5 butir soal uraian.

Ketujuh, Dalam merakit soal, hal-hal yang dapat memengaruhi validitas soal seperti nomor urut soal, pengelompokkan bentuk soal, layout, dan sebagainya harus diperhatikan karena walaupun butir-butir soal yang disusun sudah baik tetapi jika penyusunannya sembarang dapat menyebabkan soal tersebut menjadi tidak baik. Banyaknya butir soal tes untuk setiap indikator minimal satu untuk setiap butir soal. Penyusunan butir soal disesuaikan dengan tingkatan kognitif yang sesuai dengan Taksonomi Bloom edisi revisi yaitu level Mengingat (C1), memahami (C2), mengaplikasikan (C3), menganalisis (C4), Mengevaluasi (C5), dan mengkreasi (C6)

Kedelapan, Pelaksanaan tes dilakukan sesuai dengan waktu yang tekah ditentukan dan diperlukan pengawasan agar tes benar-benar dikerjakan dengan jujur.

Kesembilan, menafsirkan hasil tes merupakan data kuantitatis yang berupa skor. Skor ini kemudian ditafsirkan sehingga menjadi nilai, yaitu rendah, menengah atau tinggi. Tinggi rendahnya nilai selalu dikaitkan dengan acuan penilaian. Terdapat dua acuan penilaian yang sering digunakan dalam dunia psikologi dan pendidikan, yaitu acuan norma dan acuan kriteria.

Dari hasil analisis tersebut diperoleh bahwa semua soal pilihan ganda valid dengan nilai sebesar 0,80 dan soal uraian valid dengan nilai sebesar 2.05 yang berarti memiliki reliabilitas tinggi. Dapat disimpulkan bahwa hasil instrument tes ini berhasil. Karena soal ini dihasilkan sesuai dengan indikator, kaidah penulisan soal pilihan ganda dan soal uraian yang telah melalui tahapan-tahapan proses pengembangan soal berdasarkan kurikulum sekolah dasar.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil tes soal yang telah dikembangkan berupa soal pilihan ganda yang berjumlah 10 soal dan soal uraian yang berjumlah 5 soal dapat digunakan karena terbukti valid dan praktis, dimana nilai rata-rata yang didapatkan adalah 69.75.

 

Daftar Pustaka

Magdalena, Ina dkk. Pengembangan Instrumen Tes Siswa Tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Tangerang, Nusantara: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, Vol. 2, No. 2, Juli 2020.

Muttaqin, Mochamad Zaenal dan Kusaeri. Pengembangan Instrumen  Penilaian Tes Tertulis Bentuk Uraian untuk Pembelajaran PAI Berbasis Masalah Materi Fiqh, Jurnal Tatsqif, Vol. 15, No. 1, Juni 2017.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merancang Instrumen Penilaian Tes Tertulis